Wants vs Needs

Spread the love

Dalam perjalanan pulang dari Jakarta ke Bogor, dengan kemajuan teknologi ICT saya dapat tetap connected ke internet, saya browse blog anak saya yang masih duduk di kelas 4 SD dan saya tertarik satu post yang berjudul My Ven Diagram about Needs and Wants. Saya jadi penasaran, karena beberapa bulan yang lalu saya baru mengikuti suatu pelatihan di bidang leadership di luar negeri mengenai “Constructive Contention”. Salah satu teknik di dalam membangun constructive contention dalam mengelola konflik adalah dengan memahami perbedaan antara Needs dan Wants. Lalu saya google lagi “Needs and Wants” dan saya temukan tulisan berikut:

Want vs. Need: Basic Economics

One of the most basic concepts of economics is want vs. need.

What are they exactly?

A need is something you have to have, something you can’t do without. A good example is food. If you don’t eat, you won’t survive for long. Many people have gone days without eating, but they eventually ate a lot of food. You might not need a whole lot of food, but you do need to eat.

A want is something you would like to have. It is not absolutely necessary, but it would be a good thing to have. A good example is music. Now, some people might argue that music is a need because they think they can’t do without it. But you don’t need music to survive. You do need to eat.

Sejak kecil, kebanyakan dari kita sudah dipengaruhi oleh lingkungan kita yang sangat konsumeris yang menjajaga banyak “wants lists” tanpa pernah memikirkan “needs lists” kita. Lama kelamaan, kita menjadi mendahulukan wants lists dari pada needs lists. Sikap ini sangat berpengaruh terhadap pola hidup kita dan juga cara kita memandang suatu masalah.

Bisa jadi banyaknya budaya korupsi yang kita lihat adalah akibat dari keengganan kita untuk mendahulukan needs, tetapi lebih mengedepankan wants. Demikian juga keserakahan akan materi, psosisi, pujian dan lainlain juga mungkin diakibatkan wants lists yang semakin bertambah.

Disisi lain, kemampauan kita untuk membedakan antara needs dan wants akan membantu kita untuk menyederhanakan masalah-masalah yang kompleks (simplify complexity).

14 thoughts on “Wants vs Needs

  1. Wahyu Sardjono

    Friend .. Welcome to PT Garuda Indonesia.

    Suatu perubahan besar telah terjadi di PT. Garuda Indonesia (GA) selaku Flag Carrier karena mulai bulan November 2007 ini PT. Garuda Indonesia mempunyai seorang CIO (Chief Information Officer) profesional.

    Adalah suatu kebanggaan tersendiri, dengan perkembangan ICT di negeri ini, sebuah BUMN mampu berubah dalam memandang ICT yang tidak hanya sebagai supporting tools tetapi telah disadari bahwa ICT bisa diposisikan sebagai strategic tools, dan PT. Garuda Indonesia kini telah melakukan.

    Pilihan CIO profesional adalah juga menjadi penting ketika kesadaran korporat terhadap ICT dan peranan strategisnya telah tumbuh, karena pada akhirnya ketika sampai kepada implementasinya memang diperlukan seorang CIO yang handal dan Profesional.

    Elisa .. adalah orang yang tepat, saya yakin Elisa mampu membawa terbang tinggi PT. Garuda Indonesia dengan memanfaatkan ICT sebagai strategic tools dan menjadikan competitive advanted bagi korporat dalam bersaing dengan dengan Airline lain yang telah mendahului.

    Goodluck Friend and Welcome. (WS)

    Reply
  2. Hani

    Pak Elisa,

    “Bisa jadi banyaknya budaya korupsi yang kita lihat adalah akibat dari keengganan kita untuk mendahulukan needs, tetapi lebih mengedepankan wants. ”

    Sepenggal kalimat yang sangat menyentuh hati saya karena bangsa Indonesia sudah mendahulukan wants dari pada needs… bagaimana dengan PT.Garuda Indonesia …. apa juga mengendepankan wants!!!

    salam
    Hani

    Reply
  3. srimarlina

    salam kenal pak…saya bingung mo komen di blog bapak yang mana, ada dua satu di sini, satunya lagi di wp. Tapi akhirnya saya putuskan untuk kasih komen di sini saja.

    baru pertama kali berkunjung ke blog bapak gara-garanya abis baca postingan di sini: CEO Blogging

    Salam

    Lina

    Reply
  4. solution

    Bagus sekali tulisan anda ibu Elisa. Memang kondisi saat ini masyarakat kita dijangkiti oleh penyakit “keinginan” dan bukan “kebutuhan”. Keinginan sangat dekat sekali dengan hawa nafsu, keinginan membuat seseorang menjadi serakah. Keinginan lebih kepada memuaskan diri untuk memperoleh kesenangan.

    Namun demikian keinginan harus tetap ada, tetapi ingat bahwa jika keinginan itu bukanlah sebuah kebutuhan kita bisa pertimbangan ulang dan lakukan reframming atas keinginan dari sudut pandang yg lain.

    Salam kenal
    Mei Hendra Darma

    Reply
  5. rumanap

    kalo kita sdh bicara soal keinginan, mestinya kebutuhan sudah terpenuhi. Baguslah keinginan itu kita perpanjang lagi list nya. Sehingga kita lebih asyik memilih yang terbaik sesuai kemampuan kita

    Reply
  6. Ronald Manurung

    Dear Pak Elisa Lumbantoruan.
    Kebetulan saya cobacoba browsing Adat Batak, dan akhirnya melihat blok nya Pak Elisa ( sebagian pembaca mengira kl Elisa itu adalah Ibu ).
    Sy sudah baca nama bapak di satu majalah beberapa waktu y.l. Sy sangat bangga melihat tulisan bapak mengenai need dan wants, dimana kadang kala kita sangat sulit membuat batasan.

    Dengan kehadiaran Pak Elisa di Garuda, saya secara pribadi berharap dapat melakukan suatu perubahan yg sangat diperlukan, supaya bisa disejajarkan dgn perusahaan penerbangan lain di dunia. Sekali lagi selamat, walaupun response ini agak terlambat.

    Salam / Ronald Manurung

    Reply
  7. JP Manalu

    Tulisan yang sangat Bagus Pak Elisa,
    Karena sebagian besar diantara kita lebih memprioritaskan “wants” itukah yang telah merusak sistim pendidikan kita…. Di mana Perguruan Tinggi Negeri saat ini berlomba-lomba menjadi BHMN dan secara sangat “ruar biasa” menaikkan biaya pendidikannya?.
    Pak Elisa, saya sangat khawatir dengan fenomena BHMN untuk PTN ini, karena menurut hemat saya dampaknya akan sangat besar, salah satu dampak utamanya adalah, kesempatan anak-anak golongan ekonomi lemah untuk menikmati pendidikan berkwalitas di PTN-PTN semakin minim.

    Reply
  8. Bersama Toba

    Artikel yang sangat bagus, memang kondisi saat ini masyarakat kita dijangkiti oleh penyakit “keinginan” dan bukan “kebutuhan”.

    saya secara pribadi berharap dapat melakukan suatu perubahan yg sangat diperlukan, supaya bisa disejajarkan dgn perusahaan penerbangan lain di dunia.

    Admin http://bersamatoba.com
    Ivan N70 Blooger Batak – Sumut

    Reply
  9. Janto

    Pak Elisa,
    benar juga kata pak Rudi binapraja, sejak bergabung dengan Garuda, blog ini belum terupdate.
    Saya harap Bp tidak terjebak dalam rutinitas di Garuda.

    Salam,
    janto

    Reply
  10. diak,Yanti sihombing

    Elisa….memang Elisa…. meski aku sebenarnya tidak sopan berkata spt ini…karena aku br.lumbantoruan. kenal ito ini di pelatihan Website di Sopotoba untuk HKBP.sudah lama kuingin tahu kabar ito…eh…ternyata martandang ke web ini ketemu juga….
    artikel yang sangat bagus…
    aku juga orang yang sering mendahulukukan Wants dari Needs… dan sering juga itu kusadari. padahal aku orang kecil kok…. apalagi orang penting berlaku spt itu… wah… gimana dong…. thanks buat ito aku jadi disadarkan kembali dan aku akan merobah deh…. semoga berhasil……

    Reply
  11. Vera Yunita

    Saya baru sempat liat blog bapak lagi sekarang..

    Memang penting membedakan needs and wants

    Khusus untuk diri sendiri.. kalau kita lebih mementingkan needs.. kita akan banyak bersyukur sekaligus berusaha menjadi lebih baik..
    Kebutuhan lahir (sandang, pangan, papan) pasti telah terpenuhi maka tinggal memenuhi kebutuhan batin. Adapun kebutuhan batin yang mendasar adalah mengenal dan berdekatan dengan-Nya.
    (ini bukan teori Maslow … :-))

    Wants lists sendiri akan semakin bertambah karena sifat dasar manusia yang tidak pernah puas.. apa jadinya jika kita mementingkan wants.. betul pak.. menurut pengalaman saya.. akan lebih banyak negatifnya

    Mendahulukan needs baru kemudian wants juga berlaku untuk Airline customer. Maka service recovery untuk kegagalan pemenuhan needs customer juga harus diutamakan..

    Terima kasih untuk artikel2x Bapak yang inspiratif..

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.