<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Simplify Complexity &#187; Batak&#8217;s Culture</title>
	<atom:link href="http://elisa.lumbantoruan.net/?feed=rss2&#038;cat=5" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://elisa.lumbantoruan.net</link>
	<description>Partungkoan Elisa Lumbantoruan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Sep 2010 12:23:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Adat Batak &#8211; perlu atau tidak?</title>
		<link>http://elisa.lumbantoruan.net/?p=27</link>
		<comments>http://elisa.lumbantoruan.net/?p=27#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Sep 2007 16:02:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elisa Lumbantoruan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Batak's Culture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elisa.lumbantoruan.net/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Horas ma di hita saluhutna, Perlu barangkali kita samakan penegertian kita mengenai &#8220;Adat&#8221;. Sebenarnya, ada 2 (dua) hal yang harus kita perlu cermati mengenai adat Batak, yaitu adat formal, yang biasa dapat kita lihat dari pelaksanaan acara adat Batak, mulai dari lahir, besar, menikah, sampai meninggal. Banyak sekali praktek adat Batak yang berkaitan dengan siklus hidup orang Batak. Kalau ada anak lahir, datanglah mertuanya &#8220;mamboan aek ni unte&#8221;, &#8220;pasahat ulos parompa&#8221;, paebathon, setelah besar, anak laki-laki biasanya &#8220;manulangi tulang&#8221;, untuk minta izin mau menikah dengan orang lain, biasanya hanya anak laki-laki yang paling sulung, acara pernikahan, sampai acara yang berkaitan dengan orang yang meninggal. Semua ini adalah merupakan bagian dari adat formal. Yang kedua adalah yang disebut dengan adat material. Yang berhubungan dengan adat material adalah sistem nilai yang terkandung di dalam budaya Batak, yang umum kita tahu adalah konsep Dalihan Na Tolu, yaitu Somba marhula-hula, Elek Marboru, manat mardongan tubu, kadang-kadang ditambah lagi satu lagi burju mardongan sahuta. Dalihan na tolu adalah suatu kerangka (framework) yang sangat baik, bagai mana orang Batak berinteraksi dengan lingkungannya, yang kaya dengan sistem nilai yang sangat baik dan dapat bertahan sepanjang zaman. Karena, sistem nilai yang ada di dalamnya sangat universal dengan nilai-nilai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Horas ma di hita saluhutna,</p>
<p><span STYLE="font-family: "Trebuchet MS"">Perlu barangkali kita samakan penegertian kita mengenai &#8220;Adat&#8221;. Sebenarnya, ada 2 (dua) hal yang harus kita perlu cermati mengenai adat Batak, yaitu adat formal, yang biasa dapat kita lihat dari pelaksanaan acara adat Batak, mulai dari lahir, besar, menikah, sampai meninggal. Banyak sekali praktek adat Batak yang berkaitan dengan siklus hidup orang Batak. Kalau ada anak lahir, datanglah mertuanya &#8220;mamboan aek ni unte&#8221;, &#8220;pasahat ulos parompa&#8221;, paebathon, setelah besar, anak laki-laki biasanya &#8220;manulangi tulang&#8221;, untuk minta izin mau menikah dengan orang lain, biasanya hanya anak laki-laki yang paling sulung, acara pernikahan, sampai acara yang berkaitan dengan orang yang meninggal. Semua ini adalah merupakan bagian dari adat formal.</span><span id="more-27"></span></p>
<p>Yang kedua adalah yang disebut dengan adat material. Yang berhubungan dengan adat material adalah sistem nilai yang terkandung di dalam budaya Batak, yang umum kita tahu adalah konsep Dalihan Na Tolu, yaitu <span STYLE="font-style: italic">Somba marhula-hula</span>, <span STYLE="font-style: italic">Elek Marboru</span>, <span STYLE="font-style: italic">manat mardongan tubu</span>, kadang-kadang ditambah lagi satu lagi <span STYLE="font-style: italic">burju mardongan sahuta. <span STYLE="font-style: italic">Dalihan na tolu </span></span>adalah suatu kerangka (framework) yang sangat baik, bagai mana orang Batak berinteraksi dengan lingkungannya, yang kaya dengan sistem nilai yang sangat baik dan dapat bertahan sepanjang zaman. Karena, sistem nilai yang ada di dalamnya sangat universal dengan nilai-nilai religius yang sangat dalam. Akar dari sistem nilai dalihan na tolu adalah kerendahan hati (humble). Bagaimana tidak, seorang orang Batak harus hormat sama hula-hulanya, tanpa syarat. Tidak dikatakan, hormatilah hula-hulamu, kalau dia kaya, punya jabatan, atau baik. Demikian juga, pada saat kita hula-hula, harus elek kepada boru, walaupun dalam tatanan kekerabatan Batak, Boru adalah kelumpok yang dapat kita minta untuk melayani kita (marhobas), tetapi dalam kedudukan kita yang lebih tinggipun kita harus elek. Manat mardongan tubu, juga merupakan satu tatanan interaksi masyarakat Batak kepada keluarga yang semarga yang sangat unik. kenapa dikatakan manat (hati-hati). Dengan dongan sabutuha, sangan jarang didalam umpama/umpasa yang memberikan kita solusi, untuk mendamaikan orang yang sabutuha kalau terjadi konflik diantara mereka. Kalau mar-hula-hula, kita masih bisa membawa makanan kepada hula-hula untuk minta maaf. Demikian juga marboru, kita bisa memberikan ulos untuk minta maaf. Jadi kalau ada orang yang mempertentangkan adat Batak dengan agama, agama apapun, mungkin itu hanyalah ketidak tahuan dari sistem nilai budaya batak itu sendiri.</p>
<p>Banyak juga orang Batak yang memonopoli sifat-sifat buruk yang selalu dikaitkan sebagai HANYA milik orang Batak, yang umum disebut TEAL, LATE, dan ELAT. Tapi kalau kita uji, hampir semua suku bangsa, juga memiliki sifat-sifat ini. Bedanya adalah, orang Batak berani mengakui, bahwa sifat-sifat itupun ada di orang Batak, sedang masyarakat lain tidak berani mengakuinya. Menurut saya ini juga hal yang positif. Sebab dengan mengakuinya (awareness), adalah merupakan langkah awal untuk menghindari, mengurangi atau bahkan mengilangkannya. Kalau kita tidak ada awareness mengenai sifat-sifat yang jelek ini, maka kita akan menganggap hal ini adalh hal yang lumrah, atau &#8220;apa boleh buta&#8221;.</p>
<p>Adat Batak material yang lainnya, banyak terkandung di dalam umpama/umpasa Batak, dalam milis ini, mungkin bisa kita undang natua-tua kita untuk seskali menjelaskan beberapa umpama/umpasa Batak. Di dalamnya terkandung sistem nilai yang sangat baik.</p>
<p>Dari penjelasan saya disini, adat Batak formal, akan berubah sesuai dengan tuntutan zaman. Jangankan masalah waktu, yang mengakibatkan dibiasakannya &#8220;ulaon sadari&#8221;, mungkin pada saatnya nanti, pesta adat Batak bisa dilakukan melalui video conference, tidak harus ada di tempat yang sama. Tapi jangan juga ditiadakan sama sekali. Adat formal Batak adalah laboratorium bagi orang Batak untuk mempraktekkan adat Batak material. Dengan kita mengikuti pesta-pesta/acara adat Batak, maka pemahaman kita akan adat Batak material akan semakin baik.</p>
<p>Adat Batak formal sangat dilandasi oleh satu prinsip &#8220;dos ni roha sibaen na saut&#8221; (konsensus), tapi adat Batak material adalah suatu kerangka sistem nilai Batak yang membuat budaya Batak lestari.</p>
<p>Boti ma jolo, ba ditambai angka dongan muse.</p>
<p>Mauliate.</p>
<p>(tulisan ini adalah tanggapan saya mengenai diskusi di milis Borsaksirumonggur mengenai topik di atas?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elisa.lumbantoruan.net/?feed=rss2&amp;p=27</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Leadership Principles Dalihan Na Tolu</title>
		<link>http://elisa.lumbantoruan.net/?p=12</link>
		<comments>http://elisa.lumbantoruan.net/?p=12#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Aug 2007 15:49:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elisa Lumbantoruan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Batak's Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Leadership]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elisa.lumbantoruan.net/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Dalihan Na Tolu tidak saja baik dalam sistem kekerabatan Batak tetapi juga sangat baik diterapkan dalam sistem leadership moderen. Seorang pimpinan yang dapat menerapkan Dalihan Na Tolu dalam kerangka sistem kepemimpinannya akan menjadi pemimpin yang sangat berhasil dan juga sustainable. Dalam konsep kepemimpinan moderen kita mengenal suatu konsep yang disebut dengan 360 Degree Leadership. Dimana seorang pemimpin yang handal, harus dapat mengelola hubungan yang harmonis dengan atasan (pemilik saham/komisaris), teman sejawat (peers), dan bawahan. Hanya saja, hubungan seperti apa yang seharusnya dikembangkan?. Dalam hal inilah, hubungan Dalihan Na Tolu, menjadi sangat efektif dalam memformulasikan 360 Degree Leadership, juga bagaimana kita menempatkan siapa yang menjadi hulahula, boru dan dongan sabutuha. Barangkali dengan padanan Komisaris/pemegang saham adalah hulahula, teman sejawat/peers adalah dongan sabutuha, dan bawahan adalah boru. Dan seorang pemimpin tidak harus seorang pemimpin formal karena struktur. Dengan demikian akan terjadi hubungan yang harmonis diantara pihak-pihak yang terlibat dalam 360 Degree leadership (baca: The 360 Degree Leader : Developing Your Influence from Anywhere in the Organization, John C. Maxwell). Sistem nilai yang ada di Dalihan Na Tolu juga bisa kita terapkan dalam mengembangkan hubungan yang harmonis dengan Customer, Supplier dan Mitra Kerja (Alliances), dimana Customer adalah hulahula, Supplier adalah boru dan Alliances [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bp3.blogger.com/__AgsDpJT6pI/RtLzF5YAo3I/AAAAAAAAA-Q/gbrlgeH1Eco/s1600-h/Batak%27s+Book+2.jpg"><img src="http://bp3.blogger.com/__AgsDpJT6pI/RtLzF5YAo3I/AAAAAAAAA-Q/gbrlgeH1Eco/s320/Batak%27s+Book+2.jpg" style="float:left;cursor:pointer;margin:0 10px 10px 0;" border="0" /></a><br />
<a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Batak#Falsafah_Batak"><span style="color:#990000;">Dalihan Na Tolu</span></a> tidak saja baik dalam sistem kekerabatan Batak tetapi juga sangat baik diterapkan dalam sistem leadership moderen. Seorang pimpinan yang dapat menerapkan Dalihan Na Tolu dalam kerangka sistem kepemimpinannya akan menjadi pemimpin yang sangat berhasil dan juga sustainable. Dalam konsep kepemimpinan moderen kita mengenal suatu konsep yang disebut dengan 360 Degree Leadership. Dimana seorang pemimpin yang handal, harus dapat mengelola hubungan yang harmonis dengan atasan (pemilik saham/komisaris), teman sejawat (peers), dan bawahan. Hanya saja, hubungan seperti apa yang seharusnya dikembangkan?. <span id="more-12"></span>Dalam hal inilah, hubungan Dalihan Na Tolu, menjadi sangat efektif dalam memformulasikan 360 Degree Leadership, juga bagaimana kita menempatkan siapa yang menjadi <span style="color:#006600;">hulahula</span>, <span style="color:#000099;">boru</span> dan <span style="color:#663333;">dongan sabutuha</span>. Barangkali dengan padanan Komisaris/pemegang saham adalah hulahula, teman sejawat/peers adalah dongan sabutuha, dan bawahan adalah boru. <span>Dan seorang pemimpin tidak harus seorang pemimpin formal karena struktur. </span>Dengan demikian akan terjadi hubungan yang harmonis diantara pihak-pihak yang terlibat dalam 360 Degree leadership (baca: <a href="http://www.leadershipnow.com/leadershop/0785260927.html">The 360 Degree Leader</a> : <em>Developing Your Influence from Anywhere in the Organization</em>, <a href="http://www.leadershipnow.com/leadershop/johnmaxwell.html">John C. Maxwell</a>). Sistem nilai yang ada di Dalihan Na Tolu juga bisa kita terapkan dalam mengembangkan hubungan yang harmonis dengan Customer, Supplier dan Mitra Kerja (Alliances), dimana Customer adalah hulahula, Supplier adalah boru dan Alliances adalah dongan sabutuha dalam kekerabatan Dalihan Na Tolu, dengan melakukan segala konsekuensi dari semua hubungan kekerabatan dalam Dalihan Na Tolu. Jadi, sebenarnya, budaya kita (juga dari suku lainnya, seperti Jawa, Sunda, dll), mengajarkan sistem nilai yang sangat baik dan relevan dengan konsep manajemen dan leadership modern. Lalu&#8230;.., kenapa kalau sistem nilai ini dibalut dengan warna-warna barat mejadi kelihatannya sangat canggih?. Kesimpulannya, hargailah budaya sendiri, dan galilah hal-hal yang baik dari sana. <span>Nenek Moyang kita sudah berhasil melalui tantangan-tantangan dalam masanya, tentu generasi sekarang juga akan mampu menghadapi tantangan pada zamannya dengan sistem nilai yang sama. ELT. <a href="http://dalihan-na-tolu.blogspot.com/2007/08/leadership-principles-dalihan-na-tolu.html"><span style="font-style:italic;">Sistem Nilai Budaya Batak</span></a></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elisa.lumbantoruan.net/?feed=rss2&amp;p=12</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ukuran Keberhasilan ala BATAK</title>
		<link>http://elisa.lumbantoruan.net/?p=11</link>
		<comments>http://elisa.lumbantoruan.net/?p=11#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Aug 2007 15:01:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elisa Lumbantoruan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Batak's Culture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elisa.lumbantoruan.net/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Di setiap acara adat Batak, hampir semua kerabat yang datang pada acara itu akan menyampaikan harapan dan doa agar pihak keluarga yang punya acara (hasuhuton) berhasil dalam kehidupannya, yang diukur dari keberhasilan dalam aspek materi/welfare dan pengetahuan/knowledge (hamoraon), kedudukan sosial/jabatan/respected (hasangapon), dan keturunan, baik dalam jumlah dan kualitas dan terutama adanya anak laki-laki di dalam keluarga (hagabeon). Perhatikan umpasa/umpama (pantun) berikut : &#160; Giring-giring ma tu gosta-gosta, tu boras ni sikkoru, Sai tibu ma hamu mangiring-iring, huhut mangompa-ompa anak dohot boru. Rimbur ni Pakkat tu rimbur ni Hotang, Sai tudia pe hamu mangalakka, sai tusima hamu dapot pansamotan. Dekke ni sale-sale, dengke ni Simamora, Tamba ni nagabe, sai tibu ma hamu mamora. Sahat-sahat ni solu, sahat ma tu labuan,Sahat ma hamu leleng mangolu, jala sai di dongani Tuhan. Sahat solu, sahat di parbinsar ni ari,Leleng ma hamu mangolu jala di iring-iring Tuhan ganup ari. Mangula ma pangula, dipasae duhut-duhutMolo burju marhula-hula, dipadao mara marsundut-sundut. Ruma ijuk tu ruma gorga,Sai tubu ma anakmuna na bisuk dohot borumuna na lambok marroha. Anian ma pagabe tumundalhon sitodoan,Arimu ma gabe molo marsipaolo-oloan. Gadu-gadu ni Silindung, tu gadu-gadu ni Sipoholon,Sai tubu ma anakmuna 17 dohot borumuna 16. Andor hadukka ma patogu-togu lombu,Sai sarimatua ma hamu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bp2.blogger.com/__AgsDpJT6pI/RtrKnpYApDI/AAAAAAAABAE/WqHWgmPzCvU/s1600-h/Mudik+Juli+2007+132-1.jpg"><img border="0" src="http://bp2.blogger.com/__AgsDpJT6pI/RtrKnpYApDI/AAAAAAAABAE/WqHWgmPzCvU/s320/Mudik+Juli+2007+132-1.jpg" style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer" /></a></p>
<p style="line-height: 150%"><span style="font-family: Georgia">Di setiap acara adat Batak, hampir semua kerabat yang datang pada acara itu akan menyampaikan harapan dan doa agar pihak keluarga yang punya acara (<strong>hasuhuton</strong>) berhasil dalam kehidupannya, yang diukur dari keberhasilan dalam aspek materi/<em>welfare</em> dan pengetahuan/<em>knowledge</em> (<strong>hamoraon</strong>), kedudukan sosial/jabatan/<em>respected</em> (<strong>hasangapon</strong>), dan keturunan, baik dalam jumlah dan kualitas dan terutama adanya anak laki-laki di dalam keluarga (<strong>hagabeon</strong>). </span><span style="font-family: Georgia">Perhatikan <strong>umpasa/umpama</strong> (pantun) berikut :</span><span id="more-11"></span></p>
<p style="line-height: 150%">&nbsp;</p>
<p style="color: #3366ff; line-height: 150%"><span style="font-size: 100%">Giring-giring ma tu gosta-gosta, tu boras ni sikkoru,<br />
Sai tibu ma hamu mangiring-iring, huhut mangompa-ompa anak dohot boru.</span></p>
<p style="color: #3366ff; line-height: 150%"><span style="font-size: 100%">Rimbur ni Pakkat tu rimbur ni Hotang,<br />
Sai tudia pe hamu mangalakka, sai tusima hamu dapot pansamotan.</span></p>
<p style="color: #3366ff; line-height: 150%"><span style="font-size: 100%"><br />
Dekke ni sale-sale, dengke ni Simamora,</span><span style="font-size: 100%; color: #3366ff; line-height: 150%; font-family: Georgia"><br />
Tamba ni nagabe, sai tibu ma hamu mamora. </span></p>
<pre style="color: #3366ff; line-height: 150%"><span style="font-size: 100%; color: #3366ff; line-height: 150%; font-family: Georgia">Sahat-sahat ni solu, sahat ma tu labuan,Sahat ma hamu leleng mangolu, jala sai di dongani Tuhan. </span></pre>
<pre style="color: #3366ff; line-height: 150%"><span style="font-size: 100%; color: #3366ff; line-height: 150%; font-family: Georgia">Sahat solu, sahat di parbinsar ni ari,Leleng ma hamu mangolu jala di iring-iring Tuhan ganup ari. </span></pre>
<pre style="line-height: 150%"><span style="font-size: 100%; color: #3366ff; line-height: 150%; font-family: Georgia">Mangula ma pangula, dipasae duhut-duhutMolo burju marhula-hula, dipadao mara marsundut-sundut. 

Ruma ijuk tu ruma gorga,Sai tubu ma anakmuna na bisuk dohot borumuna na lambok marroha. 

Anian ma pagabe tumundalhon sitodoan,Arimu ma gabe molo marsipaolo-oloan. 

Gadu-gadu ni Silindung, tu gadu-gadu ni Sipoholon,Sai tubu ma anakmuna 17 dohot borumuna 16. 

Andor hadukka ma patogu-togu lombu,Sai sarimatua ma hamu sahat tu na patogu-togu pahoppu. 

Simbora ma pulguk, pulguk di lage-lage,Sai mora ma hita luhut, huhut horas jala gabe. 

Tangki jala hualang, garinggang jala garegeTubuan anak ma hamu, partahi jala ulubalangTubuan boru par-mas jala pareme. 

Tubu ma hariara, di tonga-tonga ni hutaSai tubu ma anak dohot boruma na mora jala na martua </span><span style="font-family: Georgia"> 

</span></pre>
<p style="text-align: left">Walaupun umumnya dikenal ketiga ukuran di atas, sebenarnya dari banyak umpama/umpasa tersirat juga satu ukuran keberhasilan yang lain yaitu KERENDAHAN HATI/humble (haserepon), tetapi hal ini sangat jarang secara eksplisit diutarakan sebagai salah satu ukuran keberhasilan di masyarakat Batak. Sebenarnya, ukuran ini adalah merupakan ukuran yang paling penting dari 3 (tiga) ukuran sebelumnya, yaitu hamoraon, hasangapon dan hagabeon. Dengan adanya sikap rendah hati, maka cara kita menilai ukuran keberhasilan tadi juga menjadi lebih baik.</p>
<p style="line-height: 150%" class="MsoNormal"><span style="font-family: Georgia"></span></p>
<blockquote></blockquote>
<p>Ukuran kekayaan sangat sulit kita defenisikan, sangat relatif, tergantung bagaimana kita membandingkannya. Tidak mungkin ada ukuran yang absolut untuk menentukan sebuah keluarga apakah kaya atau miskin. Dengan kerendahan hati (<strong>haserepon</strong>), maka kita dapat mendefenisikan secara absolut, apakah seseorang itu kaya atau miskin. Seseorang yang mampu memberi kepada orang lain, adalah seseorang yang kaya. Karena dengan kemampuannya untuk memberi, maka dia adalah seorang yang kaya, karena berarti ada yang lebih yang mampu dia berikan kepada orang lain. Tetapi seseorang, yang mungkin bagi kebanyakan orang sudah termasuk dalam kategori kaya, tetapi tidak mampu untuk memberi kepada orang lain, adalah seseorang yang masih miskin, karena tidak ada yang lebih yang dapat diberikan kepada orang lain. Ketamakan sesorang juga menunjukkan bahwa dia masih miskin, apa yang sudah dia dapatkan masih tetap kekurangan. Tetapi, seseorang yang selalu mengucap syukur akan apa yang sudah diperoleh sebagai berkat dari Tuhan, adalah sesorang yang kaya.</p>
<p style="line-height: 150%" class="MsoNormal"><span style="font-family: Georgia">Ukuran kehormatan juga tidak selalu sejalan dengan posisi/jabatan seseorang di dalam masyarakat. Kehormatan seseorang adalah hasil dari perjalanan panjang yang dibangun melalui pengalaman berinteraksi dengan lingkungannya sebagai masifestasi dari sistem nilai yang ditunjukkan oleh yang bersangkutan, seperti integritas, <em>trusted person</em>/<em>trustworthy</em>, <em>credible</em>, <em>positive thinking</em> dan <em>walk the talk</em>. Kehormatan tidak datang otomatis dengan semakin tingginya jabatan/posisi, kehormatan adalah sesuatu yang harus di-<em>earned</em>. Kalau seseorang memiliki <strong>haserepon</strong>, tentu kehormatan ini akan dapat dicapai. Banyak contoh yang menunjukkan orang-orang yang dihormati dalam lingkungannya walaupun jabatan/posisinya tidak tinggi, sebaliknya banyak juga orang-orang yang sudah memiliki kedudukan/posisi/jabatan yang cukup terhormat, tetapi tidak dihormati di dalam lingkungannya. </span></p>
<p style="line-height: 150%" class="MsoNormal"><span style="font-family: Georgia">Demikian juga ukuran <strong>hagabeon</strong> (banyaknya dan lengkapnya keturunan). Banyaknya keturunan dan lengkapnya keturunan, adalah salah satu cara untuk mencapai 2 (dua) ukuran keberhasilan di atas, yaitu hamoraon dan hasangapon. Juga dengan adanya keturunan, diharapkan nama sesorang akan diabadikan melalui keturuan-keturuannya. Sama seperti masyarakat etnik lain di Indonesia, kepercayaan banyak anak banyak rezeki (<strong>anakhon hi do hamoraon di au</strong>), juga dari umpasa di atas, diharapkan akan juga didapatkan kehormatan. Bagaimana hal ini dicapai?. Tentu melalui investasi yang ditanamkan oleh orang tua kepada anak-anaknya melalui investasi kesehatan, pendidikan, dan sistem nilai yang baik. Diantara ketiga ukuran keberhasilan ini, ukuran yang ketiga ini umumnya semua orang sependapat adalah merupakan kehendak Tuhan (<em>God&#8217;s will</em>), walaupun sebenarnya semuanya(termasuk hamoraon dan hasangapon juga adalah kehendak Tuhan, tapi untuk ukuran keberhasilan hamoraon dan hasangapon, banyak orang yang tidak secara ikhlas mengakui itu adalah kehendak Tuhan, yaitu dengan misalnya menghalalkan segala cara untuk mendapatkan <strong>hamoraon</strong> dan <strong>hasangapon</strong>, dan juga keyakinan bahwa ada &#8220;kekuasaan lain&#8221; yang dapat memberikan hal ini kepada yang bersangkutan. Maka muncullah nuansa KKN untuk mendapatkan 2 ukuran keberhasilan ini, <strong>Haserepon</strong> menjadi sangat penting untuk membantu kita memahami arti hagabeon, karena dengan haserepon kita akan dapat menerima kehendak Tuhan atas hagabeon yang diberikan kepada kita. Sikap kita untuk menerima hagabeon yang diberikan oleh Tuhan kepada kita akan menentukan apakah kita seseorang yang gabe atau tidak. Bahkan suatu keluarga yang tidak mempunyai keturunanpun, dapat menjadi orangtua kepada banyak orang yang memerlukan orang tua dan dengan demikian keluarga ini menjadi keluarga yang <strong>gabe</strong>, sebaliknya suatu keluarga yang dianugerahkan oleh Tuhan banyak anak, tetapi tidak berlaku/bertidak sebagai orangtua yang benar bagi anak-anaknya, tidak mewariskan kesehatan, pendidikan dan sistem nilai yang baik kepada anak-anaknya bukanlah keluarga yang gabe. Demikian juga sikap kita terhadap pembedaan anak laki-laki dan anak perempuan. Karena alasn untuk mempunyai keturunan, bukan lagi sekedar mewariskan &#8220;last name&#8221;, tetapi lebih luas lagi mengenai apa yang telah kita perbuat untuk generasi setelah kita. </span></p>
<p style="line-height: 150%" class="MsoNormal"><span style="font-family: Georgia">Jadi dengan <strong>haserepon</strong>, maka kita akan mampu untuk bersyukur akan apa yang sudah diberikan oleh Tuhan kepada kita. Dengan demikian, maka kita menjadi orang yang telah memiliki semua ukuran keberhasilan yang selalu diingankan di masyarakat Batak, yaitu : <strong>hamoraon</strong>, <strong>hagabeon</strong> dan <strong>hasangapon</strong>. Sistem nilai budaya Batak, sebagaimana sistem nilai kultur lainnya, harus mampu beradaptasi ke arah yang lebih baik, dengan tujuan pengayaan terhadap budaya tersebut. Hanya dengan demikian, suatu budaya dapat dilestarikan. Dengan budaya yang sama, tapi dengan aplikasi yang berbeda, sesuai dengan zamannya akan dapat bertahan, dan tidak akan usang oleh waktu. Tapi karena budaya adalah milik suatu komunitas, maka sudut pandang terhadap sistem nilai budaya itu harus mempunyai interpretasi yang sama di komunitas itu sendiri. Ulasan saya disini, adalah salah satu sudut pandang yang mungkin perlu didiskusikan dan dikembangkan lebih jauh. <span></span>Agar menjadi warisan yang dapat dikembangkan oleh generasi penerus, dan menjadi kontribusi masyarakat Batak terhadap budaya Indonesia. ELT</span></p>
<p class="MsoNormal"><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elisa.lumbantoruan.net/?feed=rss2&amp;p=11</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nilai Luhur Adat Batak</title>
		<link>http://elisa.lumbantoruan.net/?p=4</link>
		<comments>http://elisa.lumbantoruan.net/?p=4#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Apr 2007 17:05:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elisa Lumbantoruan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Batak's Culture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elisa.lumbantoruan.net/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Bidang do diranap dao ditatap di Adat Batak i. Uli idaon angka tujuanna, naeng maraturan na denggan sude ulaon: masiurupan, masiajaran, masipodaan, masitatapan, masihilalaan. Naeng maraturan na denggan sude panghataion, pangalaho dohot parange: masiantusan, masihormatan, masipasangapan. Naeng maraturan na denggan sude parsaoran: pardongan saripeon, parnatua-tuaon dohot paraniakhonon, parhaha-maranggion, parsahutaon, parsisolhoton, denggan mar-dongan tubu, marhula-hula, marboru. Sian najolo, diakui roha ni halak Batak do, naso marguru dijolma sude namasa diportibi on. Ala ni i dihilala roha nasida do na tergantung do ngolu nasida sian hagogoon dohot huaso ni angka na so tarida. Ala ni i mabiar do nasida mangulahon na so uhum, na so adat, mabiar do nasida mangulahon ginjang ni roha dohot lomo-lomo, sai haserepon do dipodahon dohot diparangehon. Hape nuaeng (dung tatanda TUHAN), lam godang do taida angka ginjang ni roha dohot hajahaton, lam so mabiar be mangulahon na so uhum na so adat, lam so mabiar be mangulahon sogo ni roha ni DEBATA. Lam godang do marguru tu pingkiran ni jolma sambing halak nuaeng on, ndang manjalo sinondang na sian DEBATA. Ala ni i, sai paimbaruonta do adatta, asa dohot hita patolhashon sinondang na sian DEBATA tu hita mamolus zaman na mubamuba. Ringkot angka panorangion taringot tu adat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left"><span style="font-family:georgia;">Bidang do diranap dao ditatap di Adat Batak i. Uli idaon angka tujuanna, naeng maraturan na denggan sude ulaon: masiurupan, masiajaran, masipodaan, masitatapan, masihilalaan. Naeng maraturan na denggan sude panghataion, pangalaho dohot parange: masiantusan, masihormatan, masipasangapan. Naeng maraturan na denggan sude parsaoran: pardongan saripeon, parnatua-tuaon dohot paraniakhonon, parhaha-maranggion, parsahutaon, parsisolhoton, denggan mar-dongan tubu, marhula-hula, marboru. Sian najolo, diakui roha ni halak Batak do, naso marguru dijolma sude namasa diportibi on. Ala ni i dihilala roha nasida do na tergantung do ngolu nasida sian hagogoon dohot huaso ni angka na so tarida. </span><span id="more-4"></span><span style="font-family:georgia;">Ala ni i mabiar do nasida mangulahon na so uhum, na so adat, mabiar do nasida mangulahon ginjang ni roha dohot lomo-lomo, sai haserepon do dipodahon dohot diparangehon. Hape nuaeng (dung tatanda TUHAN), lam godang do taida angka ginjang ni roha dohot hajahaton, lam so mabiar be mangulahon na so uhum na so adat, lam so mabiar be mangulahon sogo ni roha ni DEBATA. Lam godang do marguru tu pingkiran ni jolma sambing halak nuaeng on, ndang manjalo sinondang na sian DEBATA. Ala ni i, sai paimbaruonta do adatta, asa dohot hita patolhashon sinondang na sian DEBATA tu hita mamolus zaman na mubamuba. Ringkot angka panorangion taringot tu adat na denggan dibagasan hata dohot gombaran na niantusan ni halak di zaman na tabolus. Dikutip bagian dari kata sambutan mantan Ephorus HKBP Ds Siahaan almarhum dalam salah satu Buku Adat Batak “ Ruhut-ruhut Ni Adat Batak”.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elisa.lumbantoruan.net/?feed=rss2&amp;p=4</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
