<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Simplify Complexity</title>
	<atom:link href="http://elisa.lumbantoruan.net/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://elisa.lumbantoruan.net</link>
	<description>Partungkoan Elisa Lumbantoruan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Sep 2010 12:23:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>When in Doubt &#8230;</title>
		<link>http://elisa.lumbantoruan.net/?p=71</link>
		<comments>http://elisa.lumbantoruan.net/?p=71#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Dec 2008 11:26:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elisa Lumbantoruan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Leadership]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elisa.lumbantoruan.net/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[Dalam perjalanan yang macet di metropolitan, saya buka FB di BB saya. Saya membaca status dari seorang teman &#8230; Is in the middle of doubt&#8230; Saya jadi ingat beberapa tahun lalu, pada saat perusahaan tempat saya bekerja sedang dalam proses merger, dimana CEOnya mengatakan &#8220;When in doubt&#8230; Adapt and Go..&#8221;. Dalam perjalanan karir kita, maupun dalam kehidupan sosial kita, seringkali kita mengalami keadaan seperti ini (in doubt). Keraguan akan apa yang kita yakini dan percayai, seringkali membuat kita tidak bergerak, berada dalam keadaan statis. Hal ini tentu sangat tidak baik, karena banyak kesempatan yang akan terlewatkan. Suatu keadaan dimana ada keragu-raguan adalah merupakan kesempatan untuk membuka diri, mendengar dan minta saran dari siapapun yang kita percayai dapat menjadi &#8216;coach&#8217; untuk kita, bisa dari atasan, peer atau bahkan bawahan kita. Dalam kedaan ragu, kita tidak baik menjadi stimulus untuk lingkungan kita menjadikan lebih banyak orang ragu. Maka saran untuk &#8216;Adapt and Go&#8217; menjadi pilihan yang lebih baik dan juga lebih berisiko rendah. Karena, hanya diri kita sendiri yang perlu beradaptasi dan ikut teman-teman yang lebih &#8216;firm&#8217;. So, &#8230; When in Doubt &#8230; Adapt and Go &#8230;. Simplify Complexity Elisa Lumbantoruan Sent from my wireless device]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-67" title="kucing-7" src="http://elisa.lumbantoruan.net/wp-content/uploads/2008/12/kucing-7-150x150.jpg" alt="kucing-7" width="204" height="150" /></p>
<p>Dalam perjalanan yang macet di metropolitan, saya buka FB di BB saya. Saya membaca status dari seorang teman &#8230; Is in the middle of doubt&#8230; Saya jadi ingat beberapa tahun lalu, pada saat perusahaan tempat saya bekerja sedang dalam proses merger, dimana CEOnya mengatakan &#8220;When in doubt&#8230; Adapt and Go..&#8221;.</p>
<p>Dalam perjalanan karir kita, maupun dalam kehidupan sosial kita, seringkali kita mengalami keadaan seperti ini (in doubt). Keraguan akan apa yang kita yakini dan percayai, seringkali membuat kita tidak bergerak, berada dalam keadaan statis. Hal ini tentu sangat tidak baik, karena banyak kesempatan yang akan terlewatkan.<span id="more-71"></span></p>
<p>Suatu keadaan dimana ada keragu-raguan adalah merupakan kesempatan untuk membuka diri, mendengar dan minta saran dari siapapun yang kita percayai dapat menjadi &#8216;coach&#8217; untuk kita, bisa dari atasan, peer atau bahkan bawahan kita. Dalam kedaan ragu, kita tidak baik menjadi stimulus untuk lingkungan kita menjadikan lebih banyak orang ragu. Maka saran untuk &#8216;Adapt and Go&#8217; menjadi pilihan yang lebih baik dan juga lebih berisiko rendah. Karena, hanya diri kita sendiri yang perlu beradaptasi dan ikut teman-teman yang lebih &#8216;firm&#8217;.</p>
<p>So, &#8230; When in Doubt &#8230; Adapt and Go &#8230;.<br />
Simplify Complexity</p>
<p>Elisa Lumbantoruan<br />
Sent from my wireless device</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elisa.lumbantoruan.net/?feed=rss2&amp;p=71</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kambing Hitam</title>
		<link>http://elisa.lumbantoruan.net/?p=62</link>
		<comments>http://elisa.lumbantoruan.net/?p=62#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Nov 2008 11:44:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elisa Lumbantoruan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Leadership]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elisa.lumbantoruan.net/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[It is natural. It’s natural, tonight, to feel some disappointment. But tomorrow, we must move beyond it and work together to get our country moving again. We fought — we fought as hard as we could. And though we feel short, the failure is mine, not yours&#8230;. Kalimat diatas adalah sebagian dari pidato kekalahan John Mc Cain, sekaligus pengakuan atas keunggulan Barac Obama, pada tanggal 4 Nopember 2008 yang lalu. Banyak tulisan di media maupun bloh yang memuji sikap Joh Mc Cain sebagai seorang negarawan yang dengan besar hati mengakui kekalahannya dan kemenangan lawan politiknya. Bahkan pada kalimat terakhir, juga menunjukkan bahwa dia adalah seorang pemimpin yang sangat matang, dimana dalam hal menyikapi suatu kegagalan, yang pertama dia lakukan adalah mengambil tanggung jawab atas penyebab kegagalan itu, tanpa harus mencari kambing hitam penyebab kegagalan itu. Sikap seperti ini hendaknya dapat kita tiru dan kembangkan dalam perjalanan pengembangan karir kita. Yaitu dalam menyikapi suatu masalah ataupun kegagalan, sebelum kita mencari penyebab dari pihak lain, maka yang pertama harus kita lakukan adalah bertanya pada diri sendiri, apa kontribusi kita yang menyebabkan masalah atau kegagalan itu. Atau apa yang seharusnyakita lakukan berbeda seandainya kita dihadapkan pada hal atau kondisi yang sama. Kalau ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://elisa.lumbantoruan.net/wp-content/uploads/2008/11/mccain.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-63" title="mccain" src="http://elisa.lumbantoruan.net/wp-content/uploads/2008/11/mccain.jpg" alt="" width="300" height="196" /></a>It is natural. It’s natural, tonight, to feel some disappointment. But tomorrow, we must move beyond it and work together to get our country moving again.</p>
<p>We fought — we fought as hard as we could. And <em>though we feel short, the failure is mine, not yours&#8230;.<br />
</em><br />
Kalimat diatas adalah sebagian dari pidato kekalahan John Mc Cain, sekaligus pengakuan atas keunggulan Barac Obama, pada tanggal 4 Nopember 2008 yang lalu.</p>
<p>Banyak tulisan di media maupun bloh yang memuji sikap Joh Mc Cain sebagai seorang negarawan yang dengan besar hati mengakui kekalahannya dan kemenangan lawan politiknya.<span id="more-62"></span></p>
<p>Bahkan pada kalimat terakhir, juga menunjukkan bahwa dia adalah seorang pemimpin yang sangat matang, dimana dalam hal menyikapi suatu kegagalan, yang pertama dia lakukan adalah mengambil tanggung jawab atas penyebab kegagalan itu, tanpa harus mencari kambing hitam penyebab kegagalan itu.</p>
<p>Sikap seperti ini hendaknya dapat kita tiru dan kembangkan dalam perjalanan pengembangan karir kita. Yaitu dalam menyikapi suatu masalah ataupun kegagalan, sebelum kita mencari penyebab dari pihak lain, maka yang pertama harus kita lakukan adalah bertanya pada diri sendiri, apa kontribusi kita yang menyebabkan masalah atau kegagalan itu. Atau apa yang seharusnyakita lakukan berbeda seandainya kita dihadapkan pada hal atau kondisi yang sama. Kalau ini kita lakukan, maka langkah berikutnya akan menjadi lebih mudah dan lebih kondusif untuk menganalisa penyebab dari luar diri kita.</p>
<p>Simplify Complexity</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elisa.lumbantoruan.net/?feed=rss2&amp;p=62</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Every single complex problem has multiple simple solutions</title>
		<link>http://elisa.lumbantoruan.net/?p=52</link>
		<comments>http://elisa.lumbantoruan.net/?p=52#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Oct 2008 11:44:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elisa Lumbantoruan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Leadership]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elisa.lumbantoruan.net/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Sudah lama juga tidak ngeblog, hampir setahun. Salah satu dari banyak alasan adalah kesibukan. Sekarang dengan Blackberry, membaca dan menulis email menjadi sangat simple. Nah, ternyata nulis blog juga bisa melalui email. Saya mau coba. Tadi pendeta dalam kotbahnya di gereja hari ini, mengatakan bahwa untuk menjadi orang yang sukses, kiat-kiat berikut mungkin bisa membantu: 1. Jangan pusingkan persoalan sepele 2. Semua persoalan adalah persoalan sepele Saya pikir ada 2 kemungkinan untuk memaknai tips dari pak pendeta ini: pertama adalah tips itu merupakan satu kesatuan, maka setiap persoalan yang kita hadapi dalam hidup kita adalah persoalan yang sepele dan tidak harus dipusingkan. Memang kita punya kemampuan untuk membangun sikap seperti ini. Every single problem has multiple simple solutions. Simplify complexity. &#8220;setiap persoalan yang kita hadapi dalam hidup kita adalah persoalan yang sepele dan tidak harus dipusingkan&#8221; Berangkat dari sikap ini, maka akan terbangun kepercayan diri dalam menghadapi setiap masalah yang kita hadapi dan kemampuan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Kadang-kadang solusi yang kita dapatkan tidak selalu sesuai dengan yang kita inginkan. Tapi tidak perlu kecewa, lain kali akan lebih baik. Bahkan, setelah berusaha keras, sampai pada saat kita mampu mengakui bahwa kita ngak mampu, juga merupakan jawaban. Kembali ke tips yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah lama juga tidak ngeblog, hampir setahun.<br />
Salah satu dari banyak alasan adalah kesibukan. Sekarang dengan Blackberry, membaca dan menulis email menjadi sangat simple. Nah, ternyata nulis blog juga bisa melalui email. Saya mau coba.</p>
<p>Tadi pendeta dalam kotbahnya di gereja hari ini, mengatakan bahwa untuk menjadi orang yang sukses, kiat-kiat berikut mungkin bisa membantu:</p>
<p>1. Jangan pusingkan persoalan sepele<br />
2. Semua persoalan adalah persoalan sepele<span id="more-52"></span></p>
<p>Saya pikir ada 2 kemungkinan untuk memaknai tips dari pak pendeta ini: pertama adalah tips itu merupakan satu kesatuan, maka setiap persoalan yang kita hadapi dalam hidup kita adalah persoalan yang sepele dan tidak harus dipusingkan. Memang kita punya kemampuan untuk membangun sikap seperti ini. Every single problem has multiple simple solutions. Simplify complexity.</p>
<p>&#8220;setiap persoalan yang kita hadapi dalam hidup kita adalah persoalan yang sepele dan tidak harus dipusingkan&#8221;</p>
<p>Berangkat dari sikap ini, maka akan terbangun kepercayan diri dalam menghadapi setiap masalah yang kita hadapi dan kemampuan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Kadang-kadang solusi yang kita dapatkan tidak selalu sesuai dengan yang kita inginkan. Tapi tidak perlu kecewa, lain kali akan lebih baik. Bahkan, setelah berusaha keras, sampai pada saat kita mampu mengakui bahwa kita ngak mampu, juga merupakan jawaban.</p>
<p>Kembali ke tips yang dituliskan diposting sebelumnya :<br />
&#8220;1. Jangan pusingkan persoalan sepele<br />
2. Semua persoalan adalah persoalan sepele&#8221;.</p>
<p>Pendekatan kedua untuk memaknai dan mengaplikasikannya adalah dengan melihat kedua tips ini tidak merupakan satu kesatuan, tapi masing-masing berdiri sendiri.</p>
<p>1. Jangan pusingkan persoalan sepele</p>
<p>Tidak dapat diingkari, bahwa dalam kehidupan kita, banyak persoalan yang kita hadapi pada saat yang sama, tapi juga harus diselesaikan semua. Padahal kita mempunyai keterbatasan, baik waktu, enerji, kemampuan dan daya (resources). Perbedaan orang yang sukses adalah kemampuannya untuk menentukan urutan prioritas. Beberapa metoda yang digunakan misalnya adalah pemetaan masalah ke tabel critical &#8211; important atau konsep pareto. Dalam tabel critical &#8211; important, maka prioritasnya tentu adalah yang masuk kategori critical and important. Sedangkan dengan konsep pareto, prioritaskan pada hal-hal yang mewakili mayoritas, atau yang dampaknya besar.</p>
<p>2. Semua persoalan adalah persoalan sepele.</p>
<p>Setiap masalah/persoalan, tentu mempunyai kompleksitas yang berbeda-beda. Kemampuan kita untuk menyederhanakan persoalan adalah langkah awal untuk menyelesaikan suatu masalah/persoalan. Tapi selalu saja ada orang yang membuat masalah sederhana menjadi sangat kompleks. Prinsip ini justru mendorong kita untuk selalu menyederhanakan masalah yang kompleks.</p>
<p>Simplify Complexity</p>
<p>Tulisan ini juga saya post di <a title="Every single problem has multiple simple solution" href="http://harrymangapul.multiply.com/">Multiply</a> saya</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elisa.lumbantoruan.net/?feed=rss2&amp;p=52</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wants vs Needs</title>
		<link>http://elisa.lumbantoruan.net/?p=45</link>
		<comments>http://elisa.lumbantoruan.net/?p=45#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Oct 2007 13:29:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elisa Lumbantoruan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Leadership]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elisa.lumbantoruan.net/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[Dalam perjalanan pulang dari Jakarta ke Bogor, dengan kemajuan teknologi ICT saya dapat tetap connected ke internet, saya browse blog anak saya yang masih duduk di kelas 4 SD dan saya tertarik satu post yang berjudul My Ven Diagram about Needs and Wants. Saya jadi penasaran, karena beberapa bulan yang lalu saya baru mengikuti suatu pelatihan di bidang leadership di luar negeri mengenai “Constructive Contention”. Salah satu teknik di dalam membangun constructive contention dalam mengelola konflik adalah dengan memahami perbedaan antara Needs dan Wants. Lalu saya google lagi “Needs and Wants” dan saya temukan tulisan berikut: Want vs. Need: Basic Economics One of the most basic concepts of economics is want vs. need. What are they exactly? A need is something you have to have, something you can&#8217;t do without. A good example is food. If you don&#8217;t eat, you won&#8217;t survive for long. Many people have gone days without eating, but they eventually ate a lot of food. You might not need a whole lot of food, but you do need to eat. A want is something you would like to have. It is not absolutely necessary, but it would be a good thing to have. A good example [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span style="font-family: 'Futura Md'">Dalam perjalanan pulang dari <st1:city w:st="on">Jakarta</st1:city> ke <st1:city w:st="on"><st1:place w:st="on">Bogor</st1:place></st1:city>, dengan kemajuan teknologi ICT saya dapat tetap <em>connected</em> ke internet, saya browse blog anak saya yang masih duduk di kelas 4 SD dan saya tertarik satu post yang berjudul <a href="http://epin.lumbantoruan.org/?p=34">My Ven Diagram about Needs and Wants</a>. Saya jadi penasaran, karena beberapa bulan yang lalu saya baru mengikuti suatu pelatihan di bidang leadership di luar negeri mengenai “Constructive Contention”. Salah satu teknik di dalam membangun constructive contention dalam mengelola konflik adalah dengan memahami perbedaan antara Needs dan Wants.</span><span id="more-45"></span><span style="font-family: 'Futura Md'"> Lalu saya google lagi “Needs and Wants” dan saya temukan tulisan berikut:<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: 'Futura Md'"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: 'Futura Md'"><a href="http://www.socialstudiesforkids.com/articles/economics/wantsandneeds1.htm">Want vs. Need: Basic Economics</a> <o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: 'Futura Md'"><span> </span><o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family: 'Futura Md'">One of the most basic concepts of economics is want vs. need. <o:p></o:p></span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family: 'Futura Md'"><o:p> </o:p></span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family: 'Futura Md'">What are they exactly? <o:p></o:p></span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family: 'Futura Md'"><o:p> </o:p></span></em></p>
<p class="MsoNormal"><strong><em><span style="font-family: 'Futura Md'">A need</span></em></strong><em><span style="font-family: 'Futura Md'"> is something you have to have, something you can&#8217;t do without. A good example is food. If you don&#8217;t eat, you won&#8217;t survive for long. Many people have gone days without eating, but they eventually ate a lot of food. You might not need a whole lot of food, but you do need to eat. <o:p></o:p></span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family: 'Futura Md'"><o:p> </o:p></span></em></p>
<p class="MsoNormal"><strong><em><span style="font-family: 'Futura Md'">A want</span></em></strong><em><span style="font-family: 'Futura Md'"> is something you would like to have. It is not absolutely necessary, but it would be a good thing to have. A good example is music. Now, some people might argue that music is a need because they think they can&#8217;t do without it. But you don&#8217;t need music to survive. You do need to eat.<o:p></o:p></span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family: 'Futura Md'"><o:p> </o:p></span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: 'Futura Md'">Sejak kecil, kebanyakan dari kita sudah dipengaruhi oleh lingkungan kita yang sangat konsumeris yang menjajaga banyak “wants lists” tanpa pernah memikirkan “needs lists” kita. Lama kelamaan, kita menjadi mendahulukan wants lists dari pada needs lists. Sikap ini sangat berpengaruh terhadap pola hidup kita dan juga cara kita memandang suatu masalah.<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: 'Futura Md'"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: 'Futura Md'">Bisa jadi banyaknya budaya korupsi yang kita lihat adalah akibat dari keengganan kita untuk mendahulukan needs, tetapi lebih mengedepankan wants. Demikian juga keserakahan akan materi, psosisi, pujian dan lainlain juga mungkin diakibatkan wants lists yang semakin bertambah.<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: 'Futura Md'"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: 'Futura Md'">Disisi lain, kemampauan kita untuk membedakan antara needs dan wants akan membantu kita untuk menyederhanakan masalah-masalah yang kompleks (<em>simplify complexity</em>).<o:p></o:p></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elisa.lumbantoruan.net/?feed=rss2&amp;p=45</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nilai tambah ICT bagi kehidupan manusia</title>
		<link>http://elisa.lumbantoruan.net/?p=44</link>
		<comments>http://elisa.lumbantoruan.net/?p=44#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Sep 2007 10:42:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elisa Lumbantoruan</dc:creator>
				<category><![CDATA[ICT]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elisa.lumbantoruan.net/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[Setiap inovasi diciptakan untuk memberikan manfaat positif bagi kehidupan manusia. Memberikan banyak kemudahan, serta sebagai cara baru dalam melakukan aktivitas manusia. Khusus dalam bidang teknologi informasi (TI), masyarakat sudah menikmati banyak manfaat yang dibawa oleh inovasi-inovasi yang telah dihasilkan dalam dekade terakhir ini. Aktivitas kita, dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, terutama menghasilkan sebuah kondisi baru berupa kebebasan (freedom) untuk memilih, terbentangnya kendali/kekuasaan (control/power), dan terjadinya penurunan biaya (decreased cost) yang tadinya sangat tidak mungkin menjadi mungkin, bagi setiap orang yang menggunakannya. Beberapa tahun lalu, untuk mendapatkan layanan perbankan, misalnya, nasabah tidak ada pilihan selain harus mendatangi kantor pelayanan bank, dan pada hari dan jam pelayanan yang mereka sudah tentukan. Sekarang, nasabah bank memiliki kebebasan (freedom) untuk memilih kapan dan di mana dia mendapatkan layanan perbankan. Terjadi transformasi yang tadinya pemberi jasa memegang kendali (control) berubah menjadi penerima jasa yang pegang kendali. Pada saat yang sama, transformasi ini juga berhasil menurunkan biaya (cost of doing business) bagi pemberi jasa mapupun penerima jasa. Contoh lain adalah dalam industri fotografi. Beberapa tahun yang lalu, dalam industri fotografi, kita harus tergantung kepada beberapa pihak. Mulai dari merekam foto (film), mencuci cetak (jasa cuci cetak), menyimpan (album foto), dan mengirimkan (kantor pos) dengan biaya yang cukup [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap inovasi diciptakan untuk memberikan manfaat positif bagi kehidupan manusia. Memberikan banyak kemudahan, serta sebagai cara baru dalam melakukan aktivitas manusia. Khusus dalam bidang teknologi informasi (TI), masyarakat sudah menikmati banyak manfaat yang dibawa oleh inovasi-inovasi yang telah dihasilkan dalam dekade terakhir ini.<span id="more-44"></span><br />
Aktivitas kita, dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, terutama menghasilkan sebuah kondisi baru berupa kebebasan (<em>freedom</em>) untuk memilih, terbentangnya kendali/kekuasaan (<em>control/power</em>), dan terjadinya penurunan biaya (<em>decreased cost</em>) yang tadinya sangat tidak mungkin menjadi mungkin, bagi setiap orang yang menggunakannya.<br />
Beberapa tahun lalu, untuk mendapatkan layanan perbankan, misalnya, nasabah tidak ada pilihan selain harus mendatangi kantor pelayanan bank, dan pada hari dan jam pelayanan yang mereka sudah tentukan. Sekarang, nasabah bank memiliki kebebasan (<em>freedom</em>) untuk memilih kapan dan di mana dia mendapatkan layanan perbankan.<br />
Terjadi transformasi yang tadinya pemberi jasa memegang kendali (<em>control</em>) berubah menjadi penerima jasa yang pegang kendali. Pada saat yang sama, transformasi ini juga berhasil menurunkan biaya (<em>cost of doing business</em>) bagi pemberi jasa mapupun penerima jasa.<br />
Contoh lain adalah dalam industri fotografi. Beberapa tahun yang lalu, dalam industri fotografi, kita harus tergantung kepada beberapa pihak. Mulai dari merekam foto (film), mencuci cetak (jasa cuci cetak), menyimpan (album foto), dan mengirimkan (kantor pos) dengan biaya yang cukup mahal.<br />
Hari ini dengan kemajuan teknologi kamera digital, printer berwarna, komputer dan internet, kita tidak perlu tergantung dengan pihak lain, dengan pilihan yang seluas-luasnya, dan kendali ditangan kita, sekaligus juga dengan biaya yang lebih murah.<br />
Dari contoh di atas, kemajuan teknologi dapat memberikan kebebasan untuk memilih (waktu dan tempat), kemandiran (pegang kendali), dan penurunan biaya.</p>
<p><em>Ini adalah sebagian dari tulisan saya yang pernah di muat di Harian Kompas</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elisa.lumbantoruan.net/?feed=rss2&amp;p=44</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Willingness to do more &#8211; Mau vs Mampu</title>
		<link>http://elisa.lumbantoruan.net/?p=29</link>
		<comments>http://elisa.lumbantoruan.net/?p=29#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Sep 2007 02:17:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elisa Lumbantoruan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Leadership]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elisa.lumbantoruan.net/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[“One of the key qualities that any leader needs – a willingness to stretch yourself and go after goals that others think are too visionary, too hard, or too ambitious to accomplish .” Richard A. McGinn, Former Chairman and CEO, Lucent Technologies Sewaktu saya menemani anak-anak saya menonton film “Princes Diary”, ada satu hal yang mungkin dapat kita renungkan dari film itu. Salah satu kalimat di dalam surat ayah Mia kepada dia, yang hanya boleh dibuka pada saat ulang tahun Mia, disebutkan, bahwa manusia, pada suatu saat akan berada pada suatu “cross-road”, dimana kita harus memilih antara apa yang kita MAU dan apa yang kita MAMPU. Umumnya, kebanyakan kita akan memilih jalan: “apa yang kita mau”. Orang-orang yang berhasil dalam kehidupannya, mempunyai kebiasaan untuk selalu menantang dirinya sediri untuk melakukan lebih banyak dan lebih baik. Willingness to do more. Kebiasaan ini sebenarnya adalah dalam rangka proses “capacity building” dan “capability building”. Tapi banyak juga orang yang enggan untuk melakukan hal ini. Dengan mengatakan “saya tidak digaji untuk melakukan hal ini”. “Ini bukan tugas saya”, “Ini bukan urusan saya”. Tapi, sebenarnya, kita kehilangan kesempatan untuk mengembangkan diri baik dari aspek capacity maupun capability. Kalau kita digaji untuk melakukan 100%, maka tentunya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span style="font-family: 'Futura Md'"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family: 'Futura Md'">“One of the key qualities that any leader needs – a willingness to stretch yourself and go after goals that others think are too visionary, too hard, or too ambitious to accomplish .”</span></em><span style="font-family: 'Futura Md'"> Richard A. McGinn, <em>Former</em> <em>Chairman and CEO, Lucent Technologies</em><o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: 'Futura Md'"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: 'Futura Md'">Sewaktu saya menemani anak-anak saya menonton film <em>“Princes Diary”</em>, ada satu hal yang mungkin dapat kita renungkan dari film itu. Salah satu kalimat di dalam surat ayah Mia kepada dia, yang hanya boleh dibuka pada saat ulang tahun Mia, disebutkan, bahwa manusia, pada suatu saat akan berada pada suatu <em>“cross-road</em>”, dimana kita harus memilih antara apa yang kita MAU dan apa yang kita MAMPU. Umumnya, kebanyakan kita akan memilih jalan: “apa yang kita mau”.</span><span id="more-29"></span><span style="font-family: 'Futura Md'"> <o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: 'Futura Md'"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><!--more--><span style="font-family: 'Futura Md'">Orang-orang yang berhasil dalam kehidupannya, mempunyai kebiasaan untuk selalu menantang dirinya sediri untuk melakukan lebih banyak dan lebih baik. <em>Willingness to do more</em>. Kebiasaan ini sebenarnya adalah dalam rangka proses <em>“capacity building”</em> dan <em>“capability building”. </em>Tapi banyak juga orang yang enggan untuk melakukan hal ini. Dengan mengatakan “saya tidak digaji untuk melakukan hal ini”. “Ini bukan tugas saya”, “Ini bukan urusan saya”. Tapi, sebenarnya, kita kehilangan kesempatan untuk mengembangkan diri baik dari aspek capacity maupun capability. Kalau kita digaji untuk melakukan 100%, maka tentunya kita harus malu kalau tidak dapat mencapai 100%. Sebaliknya, kalau kita mampu melakukan 100% dari tanggung jawab kita dengan kurang dari 100% waktu kita, maka kita dapat melakukan hal lain yang akan membuat kita menjadi lebih produktif dan efisien. Dan waktu yang 24 jam sehari tidak lagi kurang bagi kita.<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: 'Futura Md'"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family: 'Futura Md'">Human capital development</span></em><span style="font-family: 'Futura Md'">, dapat dicapai melalui beberapa hal, antara lain, melalui pengalaman, networking/jaringan dan pelatihan/training. Yang paling dominan peranannya adalah melalui pengalaman. Yang kedua adalah melalui networking. Training, mempunyai pengaruh yang paling kecil. Di perusahaan kami, pengembangan human capital, experience berkontribusi 70%, networking 20% dan training 10%. Experience, dapat difasilitasi melalui penambahan tanggung jawab/pekerjaan, job rotation, atau dengan menambah scope dari tanggung jawab secara horizontal. Networking, dengan misalnya terlibat di dalam kegiatan-kegiatan social, keagamaan, budaya, atau kalau di dalam perusahaan, dengan memberi akses ke manajemen perusahaan. Dan semuanya ini dilakukan diatas tanggung jawab atau pekerjaan yang sedang diembannya. Dengan cara ini, baik capacity building dan capability building dapat dilakukan.<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: 'Futura Md'"><o:p> </o:p></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elisa.lumbantoruan.net/?feed=rss2&amp;p=29</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adat Batak &#8211; perlu atau tidak?</title>
		<link>http://elisa.lumbantoruan.net/?p=27</link>
		<comments>http://elisa.lumbantoruan.net/?p=27#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Sep 2007 16:02:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elisa Lumbantoruan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Batak's Culture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elisa.lumbantoruan.net/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Horas ma di hita saluhutna, Perlu barangkali kita samakan penegertian kita mengenai &#8220;Adat&#8221;. Sebenarnya, ada 2 (dua) hal yang harus kita perlu cermati mengenai adat Batak, yaitu adat formal, yang biasa dapat kita lihat dari pelaksanaan acara adat Batak, mulai dari lahir, besar, menikah, sampai meninggal. Banyak sekali praktek adat Batak yang berkaitan dengan siklus hidup orang Batak. Kalau ada anak lahir, datanglah mertuanya &#8220;mamboan aek ni unte&#8221;, &#8220;pasahat ulos parompa&#8221;, paebathon, setelah besar, anak laki-laki biasanya &#8220;manulangi tulang&#8221;, untuk minta izin mau menikah dengan orang lain, biasanya hanya anak laki-laki yang paling sulung, acara pernikahan, sampai acara yang berkaitan dengan orang yang meninggal. Semua ini adalah merupakan bagian dari adat formal. Yang kedua adalah yang disebut dengan adat material. Yang berhubungan dengan adat material adalah sistem nilai yang terkandung di dalam budaya Batak, yang umum kita tahu adalah konsep Dalihan Na Tolu, yaitu Somba marhula-hula, Elek Marboru, manat mardongan tubu, kadang-kadang ditambah lagi satu lagi burju mardongan sahuta. Dalihan na tolu adalah suatu kerangka (framework) yang sangat baik, bagai mana orang Batak berinteraksi dengan lingkungannya, yang kaya dengan sistem nilai yang sangat baik dan dapat bertahan sepanjang zaman. Karena, sistem nilai yang ada di dalamnya sangat universal dengan nilai-nilai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Horas ma di hita saluhutna,</p>
<p><span STYLE="font-family: "Trebuchet MS"">Perlu barangkali kita samakan penegertian kita mengenai &#8220;Adat&#8221;. Sebenarnya, ada 2 (dua) hal yang harus kita perlu cermati mengenai adat Batak, yaitu adat formal, yang biasa dapat kita lihat dari pelaksanaan acara adat Batak, mulai dari lahir, besar, menikah, sampai meninggal. Banyak sekali praktek adat Batak yang berkaitan dengan siklus hidup orang Batak. Kalau ada anak lahir, datanglah mertuanya &#8220;mamboan aek ni unte&#8221;, &#8220;pasahat ulos parompa&#8221;, paebathon, setelah besar, anak laki-laki biasanya &#8220;manulangi tulang&#8221;, untuk minta izin mau menikah dengan orang lain, biasanya hanya anak laki-laki yang paling sulung, acara pernikahan, sampai acara yang berkaitan dengan orang yang meninggal. Semua ini adalah merupakan bagian dari adat formal.</span><span id="more-27"></span></p>
<p>Yang kedua adalah yang disebut dengan adat material. Yang berhubungan dengan adat material adalah sistem nilai yang terkandung di dalam budaya Batak, yang umum kita tahu adalah konsep Dalihan Na Tolu, yaitu <span STYLE="font-style: italic">Somba marhula-hula</span>, <span STYLE="font-style: italic">Elek Marboru</span>, <span STYLE="font-style: italic">manat mardongan tubu</span>, kadang-kadang ditambah lagi satu lagi <span STYLE="font-style: italic">burju mardongan sahuta. <span STYLE="font-style: italic">Dalihan na tolu </span></span>adalah suatu kerangka (framework) yang sangat baik, bagai mana orang Batak berinteraksi dengan lingkungannya, yang kaya dengan sistem nilai yang sangat baik dan dapat bertahan sepanjang zaman. Karena, sistem nilai yang ada di dalamnya sangat universal dengan nilai-nilai religius yang sangat dalam. Akar dari sistem nilai dalihan na tolu adalah kerendahan hati (humble). Bagaimana tidak, seorang orang Batak harus hormat sama hula-hulanya, tanpa syarat. Tidak dikatakan, hormatilah hula-hulamu, kalau dia kaya, punya jabatan, atau baik. Demikian juga, pada saat kita hula-hula, harus elek kepada boru, walaupun dalam tatanan kekerabatan Batak, Boru adalah kelumpok yang dapat kita minta untuk melayani kita (marhobas), tetapi dalam kedudukan kita yang lebih tinggipun kita harus elek. Manat mardongan tubu, juga merupakan satu tatanan interaksi masyarakat Batak kepada keluarga yang semarga yang sangat unik. kenapa dikatakan manat (hati-hati). Dengan dongan sabutuha, sangan jarang didalam umpama/umpasa yang memberikan kita solusi, untuk mendamaikan orang yang sabutuha kalau terjadi konflik diantara mereka. Kalau mar-hula-hula, kita masih bisa membawa makanan kepada hula-hula untuk minta maaf. Demikian juga marboru, kita bisa memberikan ulos untuk minta maaf. Jadi kalau ada orang yang mempertentangkan adat Batak dengan agama, agama apapun, mungkin itu hanyalah ketidak tahuan dari sistem nilai budaya batak itu sendiri.</p>
<p>Banyak juga orang Batak yang memonopoli sifat-sifat buruk yang selalu dikaitkan sebagai HANYA milik orang Batak, yang umum disebut TEAL, LATE, dan ELAT. Tapi kalau kita uji, hampir semua suku bangsa, juga memiliki sifat-sifat ini. Bedanya adalah, orang Batak berani mengakui, bahwa sifat-sifat itupun ada di orang Batak, sedang masyarakat lain tidak berani mengakuinya. Menurut saya ini juga hal yang positif. Sebab dengan mengakuinya (awareness), adalah merupakan langkah awal untuk menghindari, mengurangi atau bahkan mengilangkannya. Kalau kita tidak ada awareness mengenai sifat-sifat yang jelek ini, maka kita akan menganggap hal ini adalh hal yang lumrah, atau &#8220;apa boleh buta&#8221;.</p>
<p>Adat Batak material yang lainnya, banyak terkandung di dalam umpama/umpasa Batak, dalam milis ini, mungkin bisa kita undang natua-tua kita untuk seskali menjelaskan beberapa umpama/umpasa Batak. Di dalamnya terkandung sistem nilai yang sangat baik.</p>
<p>Dari penjelasan saya disini, adat Batak formal, akan berubah sesuai dengan tuntutan zaman. Jangankan masalah waktu, yang mengakibatkan dibiasakannya &#8220;ulaon sadari&#8221;, mungkin pada saatnya nanti, pesta adat Batak bisa dilakukan melalui video conference, tidak harus ada di tempat yang sama. Tapi jangan juga ditiadakan sama sekali. Adat formal Batak adalah laboratorium bagi orang Batak untuk mempraktekkan adat Batak material. Dengan kita mengikuti pesta-pesta/acara adat Batak, maka pemahaman kita akan adat Batak material akan semakin baik.</p>
<p>Adat Batak formal sangat dilandasi oleh satu prinsip &#8220;dos ni roha sibaen na saut&#8221; (konsensus), tapi adat Batak material adalah suatu kerangka sistem nilai Batak yang membuat budaya Batak lestari.</p>
<p>Boti ma jolo, ba ditambai angka dongan muse.</p>
<p>Mauliate.</p>
<p>(tulisan ini adalah tanggapan saya mengenai diskusi di milis Borsaksirumonggur mengenai topik di atas?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elisa.lumbantoruan.net/?feed=rss2&amp;p=27</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Digital Divide : The Three Stages</title>
		<link>http://elisa.lumbantoruan.net/?p=20</link>
		<comments>http://elisa.lumbantoruan.net/?p=20#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Sep 2007 14:28:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elisa Lumbantoruan</dc:creator>
				<category><![CDATA[ICT]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elisa.lumbantoruan.net/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[The economic divide is a non-issue, but the usability and empowerment divides alienate huge population groups who miss out on the Internet&#8217;s potential. The &#8220;digital divide&#8221; refers to the fact that certain parts of the population have substantially better opportunities to benefit from the new economy than other parts of the population. Most commentators view this in purely economic terms. However, two other types of divide will have much greater impact in the years to come. Stage 1: Economic Divide In its simplest form, the digital divide is manifested in the fact that some people can&#8217;t afford to buy a computer. Although politicians always talk about this point, it&#8217;s growing more irrelevant with each passing day &#8212; at least in the industrialized world. We should recognize that for truly poor developing countries, computers will remain out of the average citizen&#8217;s reach for 20 years or more. In areas like North America, Europe, Australia, and Asia&#8217;s advanced countries, computer cost is no longer an issue. Dell&#8217;s cheapest computer costs $379 (with a monitor) and is about 500 times as powerful as the Macintosh Plus I used to write my Ph.D. thesis. While it&#8217;s true that a few people can&#8217;t even afford [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left"><em><strong>The economic divide is a non-issue, but the usability and empowerment divides alienate huge population groups who miss out on the Internet&#8217;s potential</strong></em>.</p>
<p>The &#8220;digital divide&#8221; refers to the fact that certain parts of the population have substantially better opportunities to benefit from the new economy than other parts of the population. Most commentators view this in purely economic terms. However, two other types of divide will have much greater impact in the years to come<span id="more-20"></span>.</p>
<h2>Stage 1: Economic Divide</h2>
<p>In its simplest form, the digital divide is manifested in the fact that some people can&#8217;t afford to buy a computer. Although politicians always talk about this point, it&#8217;s growing more irrelevant with each passing day &#8212; at least in the industrialized world. We should recognize that for truly poor developing countries, computers will remain out of the average citizen&#8217;s reach for 20 years or more.</p>
<p>In areas like North America, Europe, Australia, and Asia&#8217;s advanced countries, computer cost is no longer an issue. Dell&#8217;s <strong>cheapest computer costs $379</strong> (with a monitor) and is about 500 times as powerful as the Macintosh Plus I used to write my Ph.D. thesis. While it&#8217;s true that a few people can&#8217;t even afford $379, in another five years, computers will be one-fourth their current price. Would that all social problems would go away if we simply waited five years.</p>
<p><em>Masalah ini menjadi prioritas utama di Indonesia, yaitu usaha-usaha untuk pengadaan PC dan akses internet yang murah bagi masyarakat, terutama untuk dunia pendidikan. Beberapa perusahaan di Indonesia melakukan kegiatan CSR untuk maslah ini, sperti yang dilakukan oleh PT. Telkom, BCA, HP dan lain-lain. Diknas juga setiap tahun membelanjakan anggaran yang tidak sedikit untuk pengadaan PC di sekolah-sekolah. Tetapi sejauh ini, kalau diukur dari penetrasi PC dan koneksi ke internet, Indonesia masih sangat jauh ketinggalan.</em></p>
<p><em>Di sisi lain, pertumbuhan warnet di Indonesia adalah salah satu yang terbaik di dunia. Dengan demikian, ukuran penetrasi PC/internet tidak menjadi masalah utama bagi Indonesia, karena tersedia pusat-pusat akses publik (warnet) bagi masyarakat yang tidak mampu memiliki PC/koneksi internet sendiri. Program USO dari Departemen Kominfo, barangkali dapat juga diarahkan untuk percepatan pengembangan pusat-pusat akses publik yang lebih murah, atau bahkan gratis. Sehingga economic divide bukan menjadi masalah utama di Indonesia.</em></p>
<h2>Stage 2: Usability Divide</h2>
<p>Far worse than the economic divide is the fact that technology remains so complicated that many people couldn&#8217;t use a computer even if they got one for free. Many others can use computers, but don&#8217;t achieve the modern world&#8217;s full benefits because most of the available services are too difficult for them to understand.</p>
<p>Almost <strong>40% of the population has lower literacy skills</strong>, and yet few websites follow the guidelines for <a href="http://www.useit.com/alertbox/20050314.html" title="Lower-Literacy Users" class="old">writing for low-literacy users</a>. Even government sites that target poorer citizens are usually written at a level that requires a university degree to comprehend. The British government has done some good work on simplifying much of its direct.gov.uk site information, but even it requires at least a high school education to easily read.</p>
<p>Lower literacy is the Web&#8217;s <strong>biggest accessibility problem</strong>, but nobody cares about this massive user group.</p>
<p>Senior citizens face the <strong>second-biggest accessibility problem</strong>, but again there is little interest in the guidelines for <a href="http://www.nngroup.com/reports/seniors/" title="Web Usability for Senior Citizens - 46 Design Guidelines Based on Usability Studies with People Age 65 and Older" class="old">making websites easier for older users</a>. Companies don&#8217;t even have the excuse that it doesn&#8217;t pay to cater to this audience, because retirees are rich these days. Even though seniors are the main remaining source of growth in Internet use, companies are still endlessly fascinated by young users and ignore older, richer users who would be much more loyal customers &#8212; if only someone bothered to sell to them.</p>
<p>Whereas the economic divide is closing rapidly, I see little progress on the usability divide. Usability is improving for higher-end users. For this group, websites get easier every year, generating vast profits for site owners. Because they now follow more <a href="http://www.nngroup.com/reports/ecommerce/" title="Nielsen Norman Group report with design guidelines for e-commerce sites" class="old">e-commerce user experience</a> guidelines, companies that sell online typically have conversion rates of around 2%, which is twice the conversion rate of the bubble years. That&#8217;s all great news for high-end users, but the less-skilled 40% of users have seen little in the way of usability improvement. We know how to help these users &#8212; we&#8217;re simply not doing it.</p>
<p><em>Masalah utama yang kita hadapi di Indonesia adalah English Literacy. Di internet terdapat sumber pengetahuan dan informasi yang tidak terbatas, tetapi kebanyakan adalah konten berbahasa asing. Kalau kita ingin mengurangi usability divide, maka ada 2 (dua) hal yang harus dilakukan secara parallel; yaitu, meningkatkan usaha untuk mengurangi English literacy dan mendorong pertumbuhan industri konten local yang berbahasa Indonesia.</em><em>Bagi negara-negara lain yang mayoritas penduduknya dapat berbahasa Inggris, usaha untuk menjembatani economic divide, pada saat yang sama juga dapat menjembatani usability divide. Karena tersedia contents yang sangat banyak untuk dapat diakses oleh masyarakat. Tidak demikian dengan Negara-negara yang kemampuan masyarakatnya berbahasa Inggris masih rendah</em>.</p>
<h2>Stage 3: Empowerment Divide<br />
We have the knowledge needed to close the usability divide, and I remain hopeful that we&#8217;ll get the job done. The empowerment divide, however, is the hard one: even if computers and the Internet were extraordinarily easy to use, not everybody would make full use of the opportunities that such technology affords.Participation inequality is one exponent of the empowerment divide that has held constant throughout all the years of Internet growth: in social networks and community systems, about 90% of users don&#8217;t contribute, 9% contribute sporadically, and a tiny minority of 1% accounts for most contributions.In researching how people use search engines for my seminar on fundamental guidelines for Web usability, we&#8217;ve found that many users don&#8217;t know how to use search to truly master the Web. People don&#8217;t understand advanced search features, they rarely employ query reformulation, and many uncritically select the first search results. Also, many users don&#8217;t understand how search engines prioritize their listings, and some users don&#8217;t even know that the euphemistic label &#8220;sponsored links&#8221; refers to paid advertisements. (For more info, see Consumer Reports&#8217; study of what users know about search ads.)Because they lack the initiative and skill to take matters into their own hands, some users remain at the mercy of other people&#8217;s decisions. For example, people sometimes accept the default home page chosen by their computer vendor or ISP rather than select one that&#8217;s better suited to their needs. Again, this means that the user&#8217;s attention can be sold off like a sheep to slaughter, as indicated by deals where search engines pay computer vendors millions of dollars to be the default setting on shipping PCs.</p>
<p>Similarly, some users limit themselves to &#8220;free&#8221; Web applications that display ads. What such users don&#8217;t realize is that better applications (more appropriate, powerful, and liberating ones) are available at a cost that&#8217;s far less than the value of the time they waste trying not to look at the ads.<br />
Prospects for Bridge Building</p>
<p><em>Dengan kehadiran Web 2.0, tingkat partispasi masyarakat akan makin tinggi. Kemudahan untuk membuat konten dan kemudahan berinteraksi dengan community akan mempercepat penurunan dari empowerment divide.</em><br />
The Internet can be an empowering tool that lets people find good deals, manage vendors, and control their finances and investments. But it can just as easily be an alienating environment where people are cheated. Members of the Internet elite don&#8217;t realize the extent to which less-skilled users are left out of many of the advancements they cheer and enjoy.</p>
<p>Ultimately, I&#8217;m extremely optimistic about the economic divide, which is vanishing rapidly in industrialized countries. The usability divide will take longer to close, but at least we know how to handle it &#8212; it&#8217;s simply a matter of deciding to do so. I&#8217;m very pessimistic about the empowerment divide, however, which I expect will only grow more severe in the future.</p>
<p>Jakob Nielsen&#8217;s Alertbox, November 20, 2006</h2>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elisa.lumbantoruan.net/?feed=rss2&amp;p=20</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Be Adaptable</title>
		<link>http://elisa.lumbantoruan.net/?p=40</link>
		<comments>http://elisa.lumbantoruan.net/?p=40#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Sep 2007 13:41:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elisa Lumbantoruan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Leadership]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elisa.lumbantoruan.net/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[The only thing that we have control over is ourselves. Jadi, dalam melihat sekeliling kita, dalam posisi apapun kita, baik di dalam lingkungan kerja, sosial, dan keluarga, seharusya kita sadar bahwa tuntutan untuk beradaptasi dari lingkungan kita terhadap kita adalah merupakan tuntutan yang berlebihan. Yang lebih realistik adalah bagaimana kita dapat beradaptasi dengan lingkungan kita, sambil berusaha mempengaruhi lingkungan kita ke arah yang kita inginkan. Look at the world “as it is,” not as you might “wish to be.” &#8211;Jack Welch Ibarat air yang mengalir, selalu mencari tempat yang lebih rendah dan tanpa hambatan supaya dapat tetap mengalir. Lama kelamaan, aliran airnya makin besar, hingga membentuk sungai. Hal ini disebabkan karena berkumpulnya air dari berbagai sumber air ke tempat yang lebih rendah menyatu di suatu muara. Dalam perjalannya, bias saja dihambat oleh tanah atau batu. Lama kelamaan bentuk tanah/batu itupun berubah karena dikikis oleh aliran air. Demikianlah kita dapat beradaptasi dan mempengaruhi lingkungan kita. “ It’s not the strongest of the species that survives, nor the most intelligent; but the one most responsive to change.” —Charles Darwin Kemampuan kita beradaptasi sangat menentukan apakah kita akan berhasil dalam kehidupan kita, demikian juga dalam dunia profesi. Alasan lain adalah kita hidup di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><em><span>The only thing that we have control over is ourselves. </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Jadi, dalam melihat sekeliling kita, dalam posisi apapun kita, baik di dalam lingkungan kerja, sosial, dan keluarga, seharusya kita sadar bahwa tuntutan untuk beradaptasi dari lingkungan kita terhadap kita adalah merupakan tuntutan yang berlebihan. Yang lebih realistik adalah bagaimana kita dapat beradaptasi dengan lingkungan kita, sambil berusaha mempengaruhi lingkungan kita ke arah yang kita inginkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;"><em><span>Look at the world “as it is,” not as you might “wish to be.”<span>                                                                                   </span><span>                                           </span></span></em><span>&#8211;Jack Welch</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span id="more-40"></span><span>Ibarat air yang mengalir, selalu mencari tempat yang lebih rendah dan tanpa hambatan supaya dapat tetap mengalir. Lama kelamaan, aliran airnya makin besar, hingga membentuk sungai. Hal ini disebabkan karena berkumpulnya air dari berbagai sumber air ke tempat yang lebih rendah menyatu di suatu muara. Dalam perjalannya, bias saja dihambat oleh tanah atau batu. Lama kelamaan bentuk tanah/batu itupun berubah karena dikikis oleh aliran air. Demikianlah kita dapat beradaptasi dan mempengaruhi lingkungan kita.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span>“<em><span>        </span>It’s not the strongest of the species<br />
that survives, nor the most intelligent;<br />
but the one most responsive to change.”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span>—<em>Charles Darwin</em></span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kemampuan kita beradaptasi sangat menentukan apakah kita akan berhasil dalam kehidupan kita, demikian juga dalam dunia profesi. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Alasan lain adalah kita hidup di lingkungan yang mengalami banyak sekali perubahan, jadi yang mampu beradaptasi terhadap perubahan adalah yang mampu bertahan dan berkembang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span>“If you’re reacting to change, you’re too late. You must anticipate change. You must understand change as an opportunity and make it happen.”<span>                   </span><span>                               </span></span></em><span>&#8211;Jurgen Hambrecht</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Tapi, mampu beradaptasi bukan berarti tidak punya pendirian. Kemampuan beradaptasi adalah merupakan salah satu kemampuan yang diperlukan untuk mampu melakukan </span><span>”<em>Simplify Complexity</em>”.</span><span> Karena dengan kemampuan ini kita tidak lagi korban dari perubahan, tetapi menjadi agen dari perubahan. ELT</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span style="font-size:130%;"></span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elisa.lumbantoruan.net/?feed=rss2&amp;p=40</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>My Daily Prayer</title>
		<link>http://elisa.lumbantoruan.net/?p=39</link>
		<comments>http://elisa.lumbantoruan.net/?p=39#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Sep 2007 12:41:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elisa Lumbantoruan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Leadership]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://elisa.lumbantoruan.net/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[Four attitudes will help us make today our signature day Appreciation. Lord, thank you for the gift of this day. Regardless of circumstances, good or bad, I thankfully accept all that is in this day. Availability. I’m totally available to You and, therefore, available to others. Awareness . I understand You communicate through the people and circumstances that surround me. I further recognize that the closer I come to you, the more I can hear You whisper trough people and circumstances. Therefore, I commit to my awareness of Your presence over the busyness of life. Alignment. My goal is to be one with You. Every decision I make and all I do reflects your nature. God is My CEO, Larry S. Julian &#160;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bp3.blogger.com/__AgsDpJT6pI/RtwGtZYApGI/AAAAAAAABAc/zHd_XWOg0uU/s1600-h/Mudik+Juli+2007+070-1.jpg"><img border="0" src="http://bp3.blogger.com/__AgsDpJT6pI/RtwGtZYApGI/AAAAAAAABAc/zHd_XWOg0uU/s200/Mudik+Juli+2007+070-1.jpg" style="float: left; margin: 0px 10px 10px 0px; cursor: pointer" /></a></p>
<p style="margin-left: 0.25in" class="MsoNormal"><strong><span>Four attitudes will help us make today our signature day</span></strong><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 14pt"></span></p>
<p style="margin-left: 0.25in" class="MsoNormal"><strong><em><span>Appreciation</span></em></strong><span>. Lord, thank you for the gift of this day. Regardless of circumstances, good or bad, I thankfully accept all that is in this day.</span></p>
<p style="margin-left: 0.25in" class="MsoNormal"><strong><em><span>Availability</span></em></strong><span>. I’m totally available to You and, therefore, available to others.</span></p>
<p style="margin-left: 0.25in" class="MsoNormal"><strong><em><span>Awareness</span></em></strong><span> </span><strong><em><span>. </span></em></strong><span><span></span>I understand You communicate through the people and circumstances that surround me. I further recognize that the closer I come to you, the more I can hear You whisper trough people and circumstances. Therefore, I commit to my awareness of Your presence<span> </span>over the busyness of life.</span></p>
<p style="margin-left: 0.25in" class="MsoNormal"><strong><em><span>Alignment</span></em></strong><span>. My goal is to be one with You. Every decision I make and all I do reflects your nature. </span></p>
<p align="right" style="text-align: right" class="MsoNormal"><em>God is My CEO,<span> </span>Larry S. Julian</em></p>
<p align="right" style="text-align: right" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://elisa.lumbantoruan.net/?feed=rss2&amp;p=39</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
